Andalasindo.com||Kota Jambi – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Jambi menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kemampuan Personel Fungsi Intelkam Tahap II Tahun 2025 dengan tema “Membangun Intelijen yang Responsif, Adaptif, dan Berintegritas Menghadapi Dinamika Kamtibmas di Era Teknologi Disrupsi dan Artificial Intelligence.”
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Duo Ratu, Kota Jambi ini dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur Intelkam Polda Jambi, AKBP S. Bagus Santoso, S.I.K., M.H., dan diikuti oleh personel Intelkam dari Polda hingga jajaran Polres se-Provinsi Jambi.
Dalam sambutannya, Kombes Pol. Hendri Hotuguan Siregar, S.I.K. menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital bagi seluruh personel intelijen untuk menjawab tantangan era teknologi modern.
Beliau menyampaikan bahwa “Intelijen harus mampu membaca situasi dengan cepat, akurat, dan berbasis data. Ancaman saat ini bukan hanya fisik, tetapi juga berasal dari ruang digital yang penuh manipulasi dan disinformasi. Personel Intelkam wajib adaptif dan responsif.”
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber berkompeten di bidang kecerdasan buatan dan keamanan digital, yaitu Assoc. Prof. Dr. Ade Oktarino, S.Kom., M.S.I dan Adam Afriansyah, S.Kom., M.Kom.
Keduanya memberikan pemahaman mendalam mengenai perkembangan AI, ancaman disinformasi, serta strategi deteksi dan mitigasi untuk memperkuat peran intelijen kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Dalam paparannya, Dr. Ade Oktarino menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi gelombang informasi yang sangat cepat dan kompleks. Teknologi seperti deepfake, synthetic media, dan bot otomatis telah memperluas potensi manipulasi informasi.
“Disinformasi bukan sekadar kabar palsu, tetapi senjata digital yang mampu memicu keresahan, memecah belah masyarakat, bahkan mengganggu stabilitas negara. Intelijen harus berevolusi agar mampu menghadapi dinamika ini,” tegasnya.
Hal ini sejalan dengan arah kebijakan yang disampaikan Direktur Intelkam, bahwa personel harus memiliki kemampuan analisis yang kuat, sistematis, serta berbasis teknologi modern sebagai bagian dari pembaruan intelijen kepolisian.
Sementara itu, Adam Afriansyah menyoroti bagaimana algoritma digital, bot, dan fake accounts dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi provokatif. Disinformasi yang diproduksi oleh teknologi AI memiliki dampak langsung terhadap keamanan sosial, termasuk: Provokasi massa, Polarisasi masyarakat, Konflik horizontal, Kepanikan publik, Manipulasi isu politik dan kemasyarakatan. Ia menegaskan bahwa personel Intelkam Ditintelkam Polda Jambi perlu memahami alur penyebaran informasi digital untuk memetakan ancaman secara presisi.
Beberapa poin kunci yang menjadi penekanan: AI adalah sumber ancaman sekaligus peluang bagi kepolisian, Disinformasi digital semakin canggih dan membutuhkan respons intelijen yang adaptif, Integritas dan kecakapan teknologi menjadi fondasi penting bagi personel Intelkam, Intelijen modern harus mampu memetakan ancaman melalui data, analitik, dan kolaborasi teknologi.
Narasumber dan Wakil Direktur Intelkam sepakat bahwa era disrupsi menuntut transformasi total dalam pola kerja intelijen kepolisian.